Monday, November 16, 2009
BEKERJA DAN KEUTAMAANNYA
Pada dasarnya, Islam mendorong kaum Muslim untuk bekerja sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah swt .
Allah swt berfirman:
"Dan bertebaranlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.."[al-Jumu'ah:10]
Ali Al-Shabuniy, dalam Shafwat al-Tafaasiir, menyatakan, "Maksudnya, bertebaranlah kalian di muka bumi dan galilah apa yang ada di muka bumi, untuk diperdagangkan dan memenuhi kebutuhan kebutuhan kalian. Kemudian, carilah karunia Allah swt dan nikmat-nikmatNya. Sesungguhnya rejeki itu berada di tangan Allah swt, dan Dialah Maha Pemberi Nikmat dan Karunia."
Rasulullah saw, di dalam banyak riwayat telah menerangkan keutamaan dan dorongan untuk bekerja. Ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang memerintahkan umatnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif. Di dalam sebuah riwayat diterangkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
"Sungguh sekiranya salah seorang di antara kamu sekalian mencari kayu bakar dan dipikulnya ikatan kayu itu, maka yang demikian itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada seseorang baik orang itu memberi ataupun tidak memberinya."[HR. Bukhari dan Muslim]
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari al-Miqdam bin Ma'dariba ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Tidak ada seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as makan dari hasil usahanya sendiri."[HR. Bukhari]
Hadits-hadits ini menunjukkan, bahwa bekerja merupakan aktivitas yang penuh dengan keutamaan dan kemulyaan. Sedangkan nafkah yang diperoleh dari hasil usaha sendiri merupakan nafkah terbaik yang dipenuhi dengan keberkahan.
Riwayat-riwayat ini juga menunjukkan, bahwa Rasulullah saw telah mendorong umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan serius.
Keutamaan Bekerja
Bekerja merupakan salah satu ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Disamping untuk memperoleh nafkah yang halal dan baik, bekerja juga merupakan perwujudan hubungan ta'awuniyyah (tolong menolong) diantara sesama Muslim. Sebab, ketika seseorang bekerja, tentunya ia akan bersinggungan dengan kepentingan orang lain. Tatkala seorang penjahit menjahit baju untuk pelanggannya, ia telah membantu orang lain yang sedang membutuhkan baju, atau pakaian. Demikian juga tukang jahit; ia membutuhkan orang yang hendak menjahitkan kain kepadanya, agar ia memperoleh nafkah yang halal dan baik. Begitu seterusnya. Rasulullah saw telah menjelaskan beberapa keutamaan bekerja. Diantara keutamaan-keutamaan itu adalah sebagai berikut:
1. Bekerja Untuk Menjaga Kehormatan dan Kemulyaan Diri
Bekerja adalah refleksi kehormatan dan kemulyaan seseorang. Jika seseorang memiliki profesi halal dan baik; misalnya tukang becak, tukang ojek, guru, petani, dan buruh pabrik, dan lain sebagainya, tentunya ia akan terpandang di sisi Allah dan masyarakat. Sebaliknya, alangkah hinanya di sisi Allah swt, jika seseorang memiliki profesi haram, misalnya pelacur, dukun, eksekutor di bank ribawi, serta pekerjaan-pekerjaan haram lainnya. Harta yang didapatkannya tidak berkah, dan kelak ia akan mendapatkan siksa di hari akhir.
Di dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya, dunia itu diperuntukkan bagi empat orang;
pertama, seorang hamba yang diberi harta dan ilmu oleh Allah swt; dan dengannya ia bertaqwa kepada Allah swt dan menghubungkan silaturrahim, dan ia mengetahui bahwa ada hak Allah di dalam hartanya. Ini adalah seutama-utama kedudukan.
Kedua, seorang hamba yang diberi ilmu oleh Allah, namun tidak diberi harta; kemudian ia berniat seraya berkata, :Seandainya aku punya harta, sungguh aku akan beramal sebagaimana si fulan (yang kaya). Dengan niatnya itu, maka pahala keduanya adalah sama.
Ketiga, seorang hamba yang tidak diberi ilmu, namun hanya diberi harta oleh Allah. Lalu, ia membelajakan hartanya tanpa dengan pengetahuan, dan tidak dijadikan sebagai wasilah untuk bertaqwa kepada Allah swt dan menyambung silaturrahim, dan ia juga tidak tahu bahwa di dalamnya ada hak Allah swt, maka ini adalah serendah-rendahnya kedudukan.
Keempat, seorang hamba yang tidak diberi harta dan ilmu oleh Allah swt, dan ia berkata, "Seandainya saya memiliki harta, maka saya akan beramal sebagaimana si fulan (yang ketiga) tersebut, maka dosa keduanya adalah sama."[HR. Turmudziy]
Rasulullah saw juga mencela seseorang yang memiliki profesi haram. Nabi saw mencela seseorang yang profesinya berhubungan dengan riba. Dari Ibnu Mas'ud ra diriwayatkan, bahwasanya ia berkata: "Rasulullah saw mengutuk orang yang makan riba dan orang yang memberi makan dengannya."[HR. Muslim]. Dalam riwayat al-Turmudziy ditambahkan, "orang yang menjadi saksi dan orang yang menulis riba." [HR. Turmudziy]
Rasulullah saw juga mencela dukun. Dari Shafiyyah binti Abu 'Ubaid, dituturkan, dari salah seorang isteri Nabi saw, bahwasanya Nabi saw bersabda:
"Barangsiapa yang datang kepada tukang ramal, kemudian menanyakan sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari."[HR. Muslim]
Dari Abu Mas'ud al-Badriy ra, dikisahkan, bahwasanya Rasulullah saw melarang dari hasil penjualan anjing, hasil pelacuran, dan hasil perdukunan.[HR. Bukhari dan Muslim]. Selain itu, masih banyak riwayat-riwayat lain yang melarang seorang Muslim berusaha atau bekerja pada profesi-profesi haram. Larangan ini bisa dimengerti, karena, profesi haram akan menjatuhkan siapa saja ke dalam lembah kehinaan dan kesengsaraan.
Sayangnya, di zaman yang serba kapitalistik-materialistik ini, kemulyaan dan keluhuran tidak lagi ditimbang berdasarkan halal dan haram, akan tetapi diukur berdasarkan perolehan materi. Akibatnya, orang yang memiliki profesi hina, seperti dukun, renternir, koruptor, atau penjudi, malah disanjung dan dimulyakan. Sedangkan tukang kais sampah yang bekerja keras sepanjang hari malah diremehkan dan dihinakan. Padahal, di sisi Allah dan orang-orang beriman, orang yang memiliki profesi halal lebih mulia dibandingkan orang yang memiliki profesi haram.
Dalam riwayat lain dikisahkan, bahwa orang-orang yang tidak memiliki profesi (pengangguran) telah jatuh martabatnya di hadapan Rasulullah saw. Ibnu 'Abbas menuturkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
"Apabila Rasulullah saw melihat seseorang, kemudian merasa takjub, maka beliau bertanya, 'Apakah ia bekerja? Jika orang-orang menjawab, "Tidak"; maka laki-laki akan jatuh hina di mata beliau saw. Para shahabat kemudian bertanya, "Bagaimana seperti itu, Ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Jika seorang mukmin tidak memiliki kerja (profesi), maka ia akan hidup dengan mengandalkan hutangnya."[Kitaab al-Jaami', juz 1/34]
Hadits ini adalah sindiran tajam bagi orang-orang yang malas bekerja, atau enggan melakukan kegiatan-kegiatan produktif. Tentunya, orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan akan menggantungkan hidupnya pada orang lain, atau hutangnya. Meskipun, seorang Muslim boleh berhutang kepada orang lain, akan tetapi jika ia mengandalkan hidup dari hutangnya, martabatnya akan direndahkan orang lain.
2. Bekerja Untuk Menutupi Dosa
Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa bekerja keras akan menutupi dosa-dosa yang tidak bisa ditutupi oleh sholat dan puasa. Rasulullah saw bersabda: "Diantara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa ditutupi dengan puasa dan sholat." Para shahabat bertanya, "Lantas, apa yang bisa menutupi dosa itu Ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab, "Keseriusan dalam mencari rejeki." [Muqaddimah Dustur, hal. 278]
Hadits ini mendorong kaum Muslim untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, memenuhi ketentuan-ketentuan syariat dan sebab akibatnya (kausalitas). Sebab, keseriusan dalam bekerja merupakan wasilah untuk menutupi dosa yang tidak bisa ditutupi oleh ibadah-ibadah yang lain. Ini menunjukkan, bahwa bekerja dengan serius memiliki keutamaan di sisi Allah swt.
3. Bertemu Allah Dengan Wajah Berseri-seri
Di dalam riwayat lain disebutkan, bahwa orang yang memiliki profesi halal dan baik, akan bertemu dengan Allah swt dengan wajah berseri-seri bagaikan bulan purnama. Rasulullah saw juga bersabda:
"Barangsiapa mencari kehidupan dunia yang halal dan baik, maka ia akan menjumpai Allah swt dengan muka berseriseri bagaikan rembulan purnama."[Muqaddimah Dustur, hal. 278]
Demikianlah, Islam telah memotivasi pengikutnya untuk bekerja, berkarya, dan berusaha dengan serius, dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan syariat Allah swt dan kaedah sebab akibat.
4. Memudahkan Terkabulnya Doa
Pada dasarnya, nafkah terbaik adalah nafkah yang didapatkan dari hasil usahanya sendiri. Nafkah yang halal dan baik, baik berupa makanan, pakaian, ataupun tempat tinggal, merupakan sarana agar doa diterima Allah swt. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
Selanjutnya, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, "Ya Tuhanku, Ya Tuhanku..", sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.". [HR. Muslim]
Hadits ini menjelaskan kepada kita, bahwa doa akan dikabulkan Allah swt, jika makanan, pakaian, dan rumahnya ia dapatkan dari jalan yang halal dan baik. Sebaliknya, jika makanan, pakaian, dan tempat tinggal diperoleh dari jalan yang haram, maka doanya akan terhijab (terhalang). Bekerja merupakan salah satu cara untuk mendapatkan harta yang halal dan baik. Walhasil, bekerja bisa digunakan sebagai sarana untuk memustajabkan doa kita. Sebab, bekerja merupakan salah satu cara untuk memperoleh nafkah yang halal dan baik.
Inilah beberapa keutamaan bekerja dan berusaha. Masih banyak keutamaan-keutamaan lain dari bekerja. Sesungguhnya siapa saja yang bekerja dengan serius, berorientasi akherat, dan selalu memperhatikan prinsip halal haram, pasti ia akan dimudahkan dan dicukupkan oleh Allah swt. Nabi saw pernah bersabda: "Barangsiapa mempunyai satu keinginan (yaitu kehidupan akherat), niscaya Allah akan mencukupkan kehidupan yang diinginkannya di dunia. Barangsiapa yang keinginannya bercabang-cabang, maka Allah tidak akan mempedulikan kebinasaannya di lembah manapun di dunia ini." [HR. Hakim, Baihaqiy, dan Ibnu Majah]
Waalohu A'lam
Thursday, November 5, 2009
Keutamaan Melangkah Menuju Masjid
1. Langkahnya meninggikan derajat, menghapuskan dosa, dan merupakan kebaikan
"Dari Abdullah bin Mas'ud, bahwasanya ia berkata:"Tidaklah seseorang yang bersuci dengan sempurna (di rumahnya), kemudian pergi ke masjid, melainkan dengan setiap langkah yang ditempuhnya,Allah akan mencatat satu kebaikan untuknya, meninggikan derajatnya satu tingkat, dan menghapuskan satu dosanya." (Muslim)
2. Perjalanan pulang dicatat sebagaimana perjalanan ketika menuju di masjid
"Dari jabir, ia berkata:"Ada sebidang tanah kosong di dekat masjid (Nabawi), kemudian Bani Salimah bermasksud pindah ke tempat yang dekat dengan masjid itu. Hal ini lalu sampai kepada rasulullah. Beliau pun bersabda kepada mereka: 'Telah sampai berita kepadaku bahwa kalian ingin pindah tempat tinggal di dekat masjid.' Mereka menjawab:"Benar, wahai Rasulullah. kami memang menghendakinya.' Beliau bersabda:" Wahai bani Salimah, tetaplah kalian di tempat tinggal yang sekarang, karena banyaknya langkah yang kalian tempuh akan dicatat sebagai kebaikan. Tetaplah kalian di tempat tinggal yang sekarang, karena banyaknya lagkah yang kalian tempuh akan dicatat sebagai kebaikan." (Bukhari-Muslim)
3. Dengan berwudhu sebelum berangkat, dosa-dosanya diampuni
"Dari Ustman bin Affan, ia berkata:"Saya pernah mendengar rasulullah bersabda:"Barangsiapa yang berwudhu secara sempurna dengan maksud mengerjakan shalat, kemudian berangkat untuk mengerjakan shalat wajib, lalu mengerjakan bersama orang bnayak atau bersama jama'ah atau di masjid, niscaya Alah akan mengampuni dosa-dosanya." (Muslim)
4. Pelakunya akan diberi hidangan di surga setiap pagi dan sore
"Barangsiapa yang pergi ke masjid pagi hari dan sore hari, niscaya Allah akan menyediakan untuknya hidangan di surga setiap pagi dan sore hari." (Bukhari-Muslim)
5. Bila tertinggal, tetap mendapat pahala shalat berjamaah secara utuh
"Dari Abu Hurairah ia berkata: Nabi pernah bersabda:Barabgsiapa yang berwudhu dengan sempurna (dirumahnya) kemudian keluar (menuju shalat berjamaah), tetapi ia mendapati orang banyak telah selesai mengerjakan shalat berjamaah, maka Allah 'Azza wa Jalla akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala orang yang mengerjakan shalat berjamaah itu sejak awal dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun." (Abu Dawud)
6. Pelakunya dianggap tengah mengerjakan shalat hingga kembali ke rumah
"Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda:'Apabila seseorang diantara kalian berwudhu dirumahnya, lalu mendatangi masjid (untuk mengerjakan shalat berjamaah), dia dianggap tengah mengerjakan shalat hingga kembali ke rumahnya. Oleh karena itu, janganlah ia berbuat begini, seraya beliau menjalin jari-jari tangannya." (Ibnu Khuzaimah)
7. Pelakunya mendapat pahala seperti pahala mengerjakan haji
"Dari Abu Umamah bahwa rasulullah bersabda :"Barangsiapa yang keluar dari rumahya dalam keadaan telah bersuci dengan tujuan mengerjakan shalat wajib (secara berjamaah), maka pahalanya seperti pahala orang yang mengerjakan haji."
8. Pelakunya berada dalam jaminan Allah
"Dari abu umamah al-ahili bahwa rasuilullah bersabda: Ada tiga golongan yang semuanya berada dalam jaminan Allah 'Azza wa jalla, ia berada dalam jaminan Allah, bila ia mati syahid, kelak ia dimasukkan Allah ke surga, atau (kalau tidak mati syahid) ia pulang mendapat pahala dan harta rampasan perang; orang yang keluar menuju masjid, ia berada dalam jaminan Allah, bila ia mati, kelak ia dimasukkan Allah ke surga atau (kalau tidak mati), dia pulang dengan mendapat pahala; dan orang yang masuk rumahnya sendiri dengan salam, maka ia berada dalam jaminan Allah 'azza wa Jalla."
9. Termasuk amal-amal yang dicari-cari para malaikat
".. Ya Muhammad, tahukah engkau amal yang bagaimana yang selalu dicari-cari oleh para malaikat yang paling dekat dengan Allah?" Aku berkata:"Ya, tahu, yaitu amal-amal yang dapat menghapuskan dosa; tetap tinggal di masjid setelah selesai shalat berjamaah, berjalan menuju shalat berjamaah, dan tetap menyempurnakan wudhu ketika keadaan berat. Barang siapa mengerjakan yang demikian, ia akan hidup dengan mendapat kebaikan, akan mati dengan mendapat kebaikan, dan terbebas dari dosa sebagaimana keadaannya ketika dilahirkan oleh ibunya ..."(Tirmidzi)
10. Pelakunya akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat
"Siapa saja laki-laki atau perempuan mukmin yang mengerjakan amal shalih, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang lebih baik dan akan Kami berikan kepada mereka pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan (ketika di dunia)." (An-Nahl:97)
11. Pelakunya lebih disenangi Allah
"Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda:"Tidaklah seseorang yang berwudhu dengan sempyrna (di rumahnya) lalu pergi ke masjid yang tidak lain untuk mengerjakan shalat, melainkan Allah amat senang kepadanya sebagaimana amat senangnya seseorang yang bertemu kembali dengan temannya yang sudah lama tidak pernah bertemu." (Ibnu Khuzaimah)
12. Kelak pelakunya akan mendapat cahaya yang sempurna
"Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan bahwa mereka kelak pada hari kiamat akan mendapat cahaya yang sempurna." (Abu Dawud)
Referensi:
Sunday, October 11, 2009
Empat orang yang dirindukan syurga
Kita yakin… siapapun kita, pada strata sosial manapun kita, apapun prosfesi kita, dibumi manapun kita berpijak pasti mau menjadi orang yang dirindukan oleh syurga Allah SWT. Tempat yang diidam-idamkan oleh seluruh makhluk Allah, tempat yang tidak terdengar di dalamnya perkataan yang tak berguna, sia-sia dan dusta, didalamnya ada mata air yang mengalir, takhta-takhta yang ditinggikan, gelas-gelas berisi minuman yang terletak dekat, bantal-bantal sandaran yang tersusun, permadani-permadani yang terhampar, kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya. Kebayang enggak indahnya syurga ?….
Rasulullah SAW, mengatakan :" Syurga merindukan empat orang:
Pertama, orang yang senantiasa membaca Al-Qur'an. Nampaknya wajar jikalau syurga merindukan ahli qur'an ini karena sejak didunia saja mereka sudah diservis oleh Allah dengan ketenangan bathin, kasih sayang-Nya, kecintaannya, kemuliaan dan selalu di ingat oleh-Nya.
Kedua, penjaga lidah. Memang lidah tak bertulang tapi ia lebih tajam dari sebilah pedang, dampaknya akan mengakibatkan peperangan antar suami isteri, antar kelompok, bahkan antar dua bangsa. Efek negatifnya akan membuat orang menjadi sengsara, akan melenyapkan pahala kebaikan yang kita buat seperti api memakan kayu bakar, akan membuat puasa jadi hampa dan sia-sia. Namun bila kita menjaganya, subhanallah… begitu banyak kenikmatan akan kita raih, dengan lisan kita berdakwah, dengan lisan kita bertilawah, dengan lisan kita berdo'a.
Ketiga, pemberi makan orang yang kelaparan. Sungguh, Allah Yang Maha berterimakasih (Syakuur) akan membalas sekecil apapun kebaikan kita kepada orang lain. Bila kita memberi minum kepada saudara kita yang kehausan maka Allah akan memberi kita minum pada hari kiamat nanti disaat orang-orang sedang dilanda dahaga, Bila kita memberi makan kepada saudara kita yang sedang kelaparan, niscaya Allah akan memberi kita makan di saat orang-orang kelaparan pada hari akhir nanti, Bila kita memberi pakaian kepada saudara kita didunia ini, niscaya Allah akan memberi kita pakaian yang indah disaat orang-orang telanjang pada hari perhitungan nanti, bila kita memudahkan urusan saudara kita yang sedang kesulitan dan dihimpit permasalahan, yakinlah bahwa Allah akan memudahkan urusan kita sejak didunia ini. Pertolongan Allah akan datang kepada seorang hamba manakala sang hamba menolong saudaranya.
Keempat, Orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan. Di bulan yang mulia yang penuh berkah, rahmat, ampunan ini Allah menjanjikan kepada kita akan pembebasan dari panasnya api neraka, pedihnya azab neraka dan kejamnya siksa neraka bila kita berpuasa, dan menghidupkan malamnya dengan shalat, qiro'at dan kholwat serta ibadah apapun dengan hanya mengharap ridho-Nya.
Bila empat amal ini kita lakukan, nampaknya wajarlah bila syurga merindukan kehadiran kita…Amien
Ustadz Ahmad Jameel
copas dari milis ummp
Monday, October 5, 2009
Bergaul Lebih Sehat daripada Menyendiri
Kita mungkin pernah mendengar orang berkata, "Penyakit orang kota itu mahal-mahal, seperti jantung, liver dan stroke. Tapi kalau orang desa, penyakitnya paling-paling bisul dan koreng." Kalimat itu memang terdengar seperti lelucon, tapi mungkin memang ada hubungannya dengan pola kehidupan kota yang individualis. Penelitian ilmiah menemukan bahwa hidup bermasyarakat lebih menyehatkan.
Hasil penelitian terbaru menunjukkan, menjadi anggota dalam sebuah kelompok sosial dapat mengurangi risiko terkena stroke, demensia dan bahkan flu biasa. Dengan demikian bukti bahwa jaringan sosial merupakan kunci bagi kesehatan--terkait dengan nilai dukungan sosial dan jaringan sosial, terus bertambah.
Para peneliti dari Universitas Exeter dan Queensland, Australia, menyatakan bahwa kualitas kehidupan sosial memiliki pengaruh yang lebih besar pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang, dibandingkan dengan diet dan olahraga.
Mereka mengatakan, temuan itu menyoroti pentingnya rasa memiliki, terlibat, dan bergabung dalam sebuah kelompok sosial, seiring bertambahnya usia dan perubahan gaya hidup seseorang.
Dalam tulisannya di Scientific American Mind, para peneliti dari Universitas Exeter, Queensland dan Kansas mengkaji sejumlah studi yang pernah dilakukan sebelumnya, termasuk studi-studi yang pernah mereka lakukan sendiri. Hasil studi mereka mengidentifikasi adanya hubungan antara keanggotaan dari sebuah kelompok dengan kesehatan fisik dan mental.
"Kita adalah makhluk sosial yang hidup dan telah berevolusi untuk hidup dalam kelompok-kelompok sosial," kata Profesor Alex Haslam dari Universitas Exeter.
"Menjadi anggota sebuah kelompok, mulai dari tim sepak bola hingga klub buku dan menjadi sukarelawan di masyarakat, bisa memberikan kita sebuah jatidiri sosial."
"Ini merupakan bagian tak terpisahkan dari 'siapa kita' dan 'apa yang kita perlukan' dalam rangka mewujudkan hidup yang sejahtera dan memuaskan. Oleh karena itulah kelompok-kelompok sosial sangat penting bagi mental, kesehatan dan kesejahteraan."
Kesimpulan itu berdasarkan pada sejumlah studi terbaru yang dibahas dalam berberapa artikel dan dipresentasikan pada Festival Sains.
Sebuah studi di tahun 2008 mengenai penderita stoke, menunjukkan bahwa kemampuan untuk mempertahankan keanggotaan dalam kelompok berperan penting dalam pemulihan kemampuan untuk mengatasi kesulitan berpikir. Misalnya yang berhubungan dengan ingatan dan bahasa. Setelah mengalami stroke, kepuasan hidup mereka meningkat sebesar 12 persen, setiap kali mampu mempertahankan keanggotaannya dalam sebuah kelompok.
Studi pada orang-orang yang baru masuk panti jompo, di tahun 2009, menunjukkan bahwa mereka yang berpartisipasi dalam menghias tempat yang dipakai bersama, beberapa bulan ke depannya merasa lebih bahagia. Sebaliknya, ruang yang dipakai oleh para penghuni yang termasuk kelompok kontrol dalam penelitian itu, menurun hingga 60 persen.
Studi lain yang juga dilakukan pada tahun 2009, mencoba melihat pengaruh intervensi kelompok pada kesehatan dan kesejahteraaan dari 73 orang penghuni panti jompo. Setelah enam pekan, peneliti menemukan bahwa mereka yang bernostalgia secara berkelompok mengalami peningkatan daya ingat sebesar 12 persen. Sementara mereka yang bernostalgia sendiri tidak menunjukkan perubahan.
Satu studi lainnya, masih menyangkut penghuni panti jompo, mencoba melihat hubungan antara jatidiri, kesejahteraaan dan tingkat keparahan demensia. Hasilnya, jatidiri yang kuat--terkait dengan identitas sebagai anggota dari sebuah kelompok--memberikan prediksi yang lebih baik pada kesejahteraan daripada tingkat keparahan demensia.
"Penelitian baru itu menunjukkan betapa pentingnya identitas kelompok dan identitas sosial bagi kesejahteraan," tegas profesor Jolanda Jetten dari Universitas Queensland.
"Ini merupakan sesuatu yang sering diabaikan orang, mereka sering terburu-buru mencari solusi medis untuk masalah yang berkaitan dengan penuaan. Sekarang saatnya untuk memperhatikan faktor-faktor tersebut secara lebih serius."
"Dalam kaitannya dengan lembaga penelitian yang sekarang ini sudah begitu luas, kami akan mendorong masyarakat dunia kedokteran untuk mengakui bahwa partisipasi dalam kehidupan kelompok bisa berperan dalam melindungi kesehatan mental dan fisik kita," kata Dr Catherine Haslam dari Universitas Exeter.
"Ini jauh lebih murah daripada obat-obatan, dengan lebih sedikit efek samping, dan juga jauh lebih menyenangkan."[di/pc/www.hidayatullah.com]
Wednesday, September 30, 2009
Sebab-Sebab Turunnya Rizki
Akhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan masalah penghasilan atau rizki, entah karena merasa kurang banyak atau karena kurang berkah. Begitu pula berbagai problem kehidupan, mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta bermacam-macam tuntutannya. Sehingga masalah penghasilan ini menjadi sesuatu yang menyibukkan, bahkan membuat bingung dan stress sebagian orang. Maka tak jarang di antara mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan menempuh segala cara yang penting keinginan tercapai. Akibatnya bermunculanlah koruptor, pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan sogok, penipuan bahkan pembunuhan, pemutusan silaturrahim dan meninggal kan ibadah kepada Allah untuk mendapatkan uang atau alasan kebutuhan hidup.
Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu, Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.
Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:
- Takwa Kepada Allah
Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta"ala berfirman, artinya,
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya." (At Thalaq 2-3)
Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.
Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, "Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya."
Allah swt juga berfirman, artinya,
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. 7:96)
- Istighfar dan Taubat
Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,
"Maka aku katakan kepada mereka:"Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun" niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. 71:10-12)
Al-Qurthubi mengatakan, "Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan."
Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, "Beristighfarlah kepada Allah", lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah". Ada lagi yang mengatakan, "Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!" Maka beliau menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah". Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun juga menjawab, "Beristighfarlah kepada Allah."
Maka orang-orang pun bertanya, "Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar." Beliau lalu menjawab, "Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)
Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.
- Tawakkal Kepada Allah
Allah swt berfirman, artinya,
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. 65:3)
Nabi saw telah bersabda, artinya,
"Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang." (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)
Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.
Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.
- Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:
-Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya,
"Dari Abu Hurairah ra berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim." (HR Al Bukhari)
-Sabda Nabi saw, artinya,
"Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur." (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)
Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.
- Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman, artinya,
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (QS. 34:39)
Ibnu Katsir berkata, "Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak."
Juga firman Allah yang lain,artinya,
"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. 2:267-268)
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, "Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu." (HR Muslim)
- Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas"ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,
"Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga." (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)
Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.
- Berbuat Baik kepada Orang Lemah
Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya,
"Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian." (HR. al-Bukhari)
Dhu"afa" (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya.
- Serius di dalam Beribadah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Allah Subhannahu wa Ta"ala berfirman, artinya,
"Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu."
Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu" hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.
Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad, bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik dan bimbingan kepada kita semua. Amin.
Al-Sofwah( Sumber: Kutaib "Al Asbab al Jalibah lir Rizqi", al-qism al-ilmi Darul Wathan. )
Monday, May 4, 2009
Bahasa Semut

Profesor Robert Hickling sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti serangga dan merekam getaran-getaran bunyi yang mereka lepaskan. Namun, bahan-bahan yang diperoleh tidak bisa dinyatakan hingga ia mampu merekam bunyi-bunyi yang berasal dari semut. Ia bermaksud meneliti semut di sarangnya. Mereka tidak menemukan metoda yang lebih baik daripada mengikuti bunyi-bunyi semut.
Bagaimanapun, hal yang mengejutkan ilmuwan itu adalah bahwa frekwensi bunyi-bunyi yang dilepaskan semut-semut itu bervariasi dari satu semut dengan semut lain, dan dari jenis semut yang satu dengan jenis semut yang lain. Ada dua belas ribu spesis dalam dunia semut di muka bumi, melebihi ras manusia. Di hadapan jumlah yang luar biasa ini para peneliti bingung mengenai bagaimana mereka mencocokkan semua bunyi tersebut.
Beraneka bunyi semut bisa direkam dengan sukses, dan bagian-bagian dari riset ini diterbitkan di majalan Journal of Sound and Vibration tahun 2006, dan itu adalah pertama kali manusia dapat mendengar suara semut yang sebenarnya!
Peneliti ini menerbitkan banyak riset dan yang paling penting adalah tentang komunikasi antar semut dengan judul ‘Analisis Komunikasi Akustik Oleh Semut’ di Journal of Acoustical Society of Amarican Magazine.
Peneliti-peneliti ini menunjukkan bahwa semut-semut melebihi kita dalam komunikasi akustik. Para ilmuwan mengharapkan bahwa semut menggunakan antena-antena untuk mengirim dan menerima getaran suara. Semut memperkuat isyarat-isyarat suara yang diterima seperti yang alat-alat penerima yang canggih.
Lebih dari itu, semut-semut itu bisa menghilangkan bunyi-bunyi yang melebihi batas, sehingga hal tersebut menjadi filtrasi atau klarifikasi terhadap bunyi untuk mencirikannya dari yang lain. Ini merupakan sistem komunikasi yang sangat maju, yang selama ini tidak dikenal para ilmuwan, dan mereka baru menemukannya beberapa tahun yang lalu. Namun al-Qur’an al-Karim telah menyinggung hal tersebut dan mengatakan kepada kita bahwa semut-semut itu berbicara.
Allah berfirman, ‘Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ (an-Naml: 18)
Di dalam ayat ini, ada suatu bukti yang jelas bahwa semut-semut mempunyai suatu bahasa untuk memahami satu sama lain, dan Allah mengaruniai Sulaiman kemampuan untuk mendengar dan memahami suara-suara mereka. Para ilmuwan berusaha untuk menangkap isyarat-isyarat akustik yang diucapkan semut-semut. Namun, mereka membedakan empat macam bunyi setelah melakukan pengamatan selama bertahun-tahun.
Gambar: Semut menggunakan sinyal akustik tertentu yang dilepaskanya saat marah. Seekor semut memberi peringatan, lalu ia mengeluarkan panggilan yang bisa diterima, dipahami, dan direspon kawannya dengan segera. Untuk mendengarkan suara semut yang sedang memberi peringatan kepada kawannya, silakan klik di sini.
Para ilmuwan menyatakan bahwa semut-semut itu seperti kita, mereka melaksanakan tugas-tugas mereka secara efisien. Sambil kerja, semut-semut berbicara satu sama lain dan berkata seperti manusia. Kita menemukan bahwa semut-semut mengorganisir proses pengumpulan makanan dan tugas-tugas lain melalui bunyi-bunyi tertentu dan berbagai perintah yang dilepaskannya, sementara semut-semut lain mendengar dan merespon!
Ini adalah suara semut dalam keadaan normal dan saat bekerja, memindahkan sesuatu, dan mengumpulkan makanan. (klik di sini)
Ketika semut menyerang seekor ulat, maka ia mengeluarkan suara yang menakutkan. Suara-suara tersebut benar-benar tidak bisa dipahami, dan mereka melakukan pertemuan seperti manusia.
Dengarkan suara seekor semut saat menyerang seekor ulat. .( klik di sini)
Phil De Vries menemukan bahwa serangga melepaskan getaran-getaran suara lemah yang dapat dibedakan oleh semut. Kumbang penghisap mengeluarkan zat yang mengandung gula yang disukai semut. Serangga ini mengeluarkan getaran selama ia bekerja, sehingga semut sering kali terjebak sebagai mangsanya. Getaran-getaran akustik itu merupakan alat komunikasi di antara serangga.
Allah berfirman, ‘Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.’ (al-Isra’: 44)
Robert Hickling, salah seorang peneliti terkemuka mengatakan, ‘Semut-semut tidak bereaksi terhadap suara manusi dan tidak terpengaruh olehnya. Tetapi jika kita mengarahkan kepadanya getaran-getaran yang sesuai, maka semut terpengaruh olehnya dan meresponnya. Ini berarti bahwa semut-semut mempunyai bahasa sendiri dan mereka sepenuhnya seperti manusia. Di sini kita ingat akan firman Allah, ‘Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.’ (an-Naml: 38)
Karenanya kita menyadari bahwa al-Qur’an al-Karim itu sejalan dengan ilmu pengetahuan modern.
Thursday, April 30, 2009
Birrul Walidain
Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari
MAKNA "AL BIRR"
Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam (artinya) : "Al Birr adalah baiknya akhlaq". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya Nomor 1794).
Al Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al ‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq..
"Al Birr adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al ‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya." (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)
Berkata Urwah bin Zubair mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (QS. Al Isra’ : 24). Yaitu: "Jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun". (Ad Darul Mantsur 5/259)
Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan). (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).
Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah mudah-mudahan Allah merahmatinya: Berkata Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir "Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali". (Ghadzaul Al Baab 1/382).
HUKUM BIRRUL WALIDAIN
Para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat (contoh pengamalan) nya.
Berkata Ibnu Hazm, mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Birul Walidain adalah fardhu (wajib bagi masing-masing individu). Berkat beliau dalam kitab Al Adabul Kubra: Berkata Al Qodli Iyyad: "Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang haram." (Ghdzaul Al Baab 1/382)
Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , diantaranya:
1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak". (An Nisa’ : 36).
Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).
2. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (QS. Al Isra’: 23).
Adapun makna ( qadhoo ) = Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy : yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: "Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).
3. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." (QS. Luqman : 14).
Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua "Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) : "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu", Berkata beliau. "Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu." (Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).
Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : "Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua" (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).
4. Hadits Al Mughirah bin Syu’bah - mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda (artinya): "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).
KEUTAMAAN BIRRUL WALIDAIN
Pertama : Termasuk Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: "Sholat tepat pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua". Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah". (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).
Kedua : Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (QS. Al Ahqaf 15-16)
Diriwayatkan oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Apakah Ibumu masih hidup?", berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Kalau bibimu masih ada?", dia berkata : "Ya" . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Berbuat baiklah padanya". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).
Ketiga : Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga
Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).
Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)
Keempat : Merupakan Sebab keridhoan Allah
Sebagaiman hadits yang terdahulu "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".
Kelima : Merupakan Sebab Bertambahnya Umur
Diantarnya hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim".
Keenam : Merupakan Sebab Barokahnya Rizki
Dalilnya, sebagaimana hadits sebelumnya.
Sunday, April 26, 2009
Vaksinasi dan Sistem Dajjal

Koran Republika edisi Sabtu 25 April 2009 memuat sebuah berita yang sebenarnya sangat penting bagi ummat Islam. Letaknya di pojok kanan halaman 12. Berita itu memuat hasil temuan LPPOM Majelis Ulama Islam Sumatera Selatan yang menyimpulkan bahwa Vaksin Meningitis mengandung enzim porchin dari babi. Bayangkan..! Vaksin yang selama ini diharuskan bagi calon jamaah haji ternyata mengandung zat najis, bukan sekedar haram. Kita tahu bahwa dalam ilmu fiqh membersihkan tubuh dari bahan najis sejenis babi mengharuskan kita mencuci bagian tubuh yang tersentuh najis itu dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah. Lalu bagaimana caranya bila zat najis itu dimasukkan ke dalam tubuh kita? Adakah cara untuk membersihkannya? Padahal di antara dampak barang haram, apalagi najis, yang masuk ke dalam tubuh seorang muslim ialah tidak bakal dikabulkannya doa. Begitu kurang lebih penegasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Berarti para jamaah haji kita yang sudah bersusah payah dengan biaya besar pula pergi ke tanah suci, ternyata dengan syarat vaksin ini justru menyebabkan berbagai doa yang diajukannya di tempat-tempat mustajab menjadi sia-sia? Wallahua’lam.
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ
وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Kemudian Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam menyebut tentang seseorang yang baru pulang safar lalu menengadahkan tangannya ke langit berdoa: “Ya Rabb, ya Rabb.” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia menyantap apa-apa yang haram. Bagaimana yang demikian bisa dikabulkan? ” (HR Muslim 1686)
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan solusi dari masalah di atas. Kami cuma ingin mengingatkan pembaca bahwa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini memang sungguh zaman yang tidak berfihak kepada Islam dan kaum muslimin. Kita sedang menjalani era paling kelam dalam sejarah Islam. Inilah babak keempat dari era Akhir Zaman. Inilah babak kepemimpinan para mulkan jabbriyyan (raja-raja / penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak sambil mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Sesudah runtuhnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara ummat Islam –yakni al-khilafa al-Islamiyyah- maka Allah menyerahkan giliran kepemimpinan ummat manusia kepada kaum kuffar. Apalagi setelah memasuki era globalisasi semakin tampak saja dominasi kaum kuffar atas kehidupan manusia di planet bumi ini. Dengan komandan negara Amerika Serikat di bawah konsultan Yahudi, dunia digiring menjauh dari nilai-nilai Rabbani. Pantas bilamana seorang ulama Pakistan bernama Imran Hussain berkata: ”We are living in a godless civilization.” (Kita sedang hidup dalam peradaban yang tidak bertuhan).
Problem vaksinasi hanyalah salah satu contoh kasus dari dominasi nilai-nilai kafir yang sedang mendominasi dunia dewasa ini. Pada hakikatnya segenap lini kehidupan dunia modern dewasa ini sarat dengan permasalahan jika ditinjau dengan perspektif ajaran Allah Al-Islam. Ketika dunia dipimpin oleh kaum kuffar wajarlah bila kita temukan berbagai lini kehidupan ummat manusia menjadi bermasalah. Semua ini tidak terlepas dari fakta bahwa para pemimpinnya sendiri tidak mengerti arah dan tujuan hidup di dunia. Lalu bagaimana lagi bisa diharapkan mereka dapat mengantarkan ummat manusia yang mereka pimpin menuju arah dan tujuan yang jelas dan benar?
Seorang penulis muslim berkebangsaan Inggris bernama Ahmad Thomson menulis sebuah buku berjudul ”Dajjal:The Anti-Christ.” Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”Sistem Dajjal.” Dalam bukunya ia menjelaskan bahwa sejak hampir satu abad yang lalu dunia makin hari makin membentuk dirinya menjadi sebuah Sistem Kafir yang lebih cocok disebut sebagai Sistem Dajjal. Ia berpandangan bahwa Dajjal memiliki tiga sisi tampilan. Pertama, sisi sebagai gejala sosial budaya global. Kedua, Dajjal sebagai kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata. Dan ketiga, Dajjal sebagai individu atau oknum. Keberadaan sistem dan para pengurusnya itu, merupakan bukti dari Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan Dajjal sebagai kekuatan gaib. Dilihat dari semua pertanda yang nampak dewasa ini, kedua sisi Dajjal tersebut - yang akan dijelmakan oleh si Dajjal sendiri - sudah sangat kentara, ini berarti kemunculan Dajjal sudah sangat dekat.
Jadi berdasarkan tulisan Ahmad Thomson dewasa ini Dajjal sebagai gejala sosial budaya global dan kekuatan gaib yang tidak tampak kasat mata sudah mewujud. Tinggal Dajjal sang individu atau oknum yang belum muncul. Seluruh nilai-nilai yang berlaku dalam sistem Dajjal secara diameteral bertentangan dengan nilai-nilai Sistem Kenabian. Sebab sistem Dajjal berisi nilai-nilai kekafiran sedangkan sistem Kenabian mengandung nilai-nilai keimanan. Baik itu dalam bidang ideologi, sosial, politik, seni-budaya, ekonomi, pendidikan, hukum, militer dan pertahanan keamanan. Tentu tidak ketinggalan ia juga mencakup aspek kehidupan yang disebut dengan dunia medis. Coba perhatikan kutipan tulisan Ahmad Thomson di bawah ini:
Sebagaimana sistem pabrik dan sistem pendidikan kafir, sistem medis kafir dijalankan bak sebuah bisnis. Sistem medis kafir tak begitu peduli pada penyembuhan dan apa yang bermanfaat atau tidak. Bahkan merupakan sebuah bisnis besar bagi perusahaan-perusahaan farmasi yang memasok obat-obatan dan peralatannya, seraya memelihara beribu-ribu pekerja yang dikaryakan untuk menambal para pasien, agar mereka pun bisa dikaryakan. Kini, kita lebih sering mendengar mahasiswa kedokteran berbicara mengenai gaji-gaji besar yang mereka cita-citakan – apabila telah lulus ujian dan mendapat secarik kertas – dibanding dengan berbicara mengenai cita-cita mereka untuk menyembuhkan banyak manusia, atau berbicara mengenai bagaimana cara mencapai penyembuhan tersebut.
Ahmad Thomson menggambarkan sistem medis kafir sebagai sebuah bisnis besar yang berkembang guna melestarikan proses produsen-konsumen. Sistem medis dalam sistem Dajjal tidak pernah dimaksudkan untuk benar-benar menghapus penyakit dan menimbulkan kesehatan. Ia malah melestarikan penyakit dengan mencekoki masyarakat obat-obatan kimiawi yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Itulah sebabnya industri farmasi menjadi industri yang sangat profitable (menguntungkan secara bisnis). Tak kecuali fenomena yang disebut dengan vaksinasi. Vaksinasi merupakan salah satu cara massif untuk menimbulkan ketergantungan masyarakat kepada sistem medis dan sistem farmasi kafir.
Dalam sebuah situs bernama informationliberation:The news you’re not suppose to know terdapat sebuah video yang menjelaskan bahaya vaksinasi bagi ummat manusia. Video tersebut melibatkan para dokter medis, peneliti dan pengalaman beberapa orang tua dalam hal vaksinasi. Video tersebut bernama Vaccination:the Hidden Truth (Vaksinasi: Kebenaran yang Disembunyikan). Sudah banyak orang menjadi sadar untuk meninggalkan budaya vaksinasi sesudah menonton video ini. Bagi yang berminat silahkan click http://www.informationliberation.com/?id=13924 . Di dalam situs itu ditulis:
“Find out how vaccines are proven to be both useless and have harmful effects to your health and how it is often erroneously believed to be compulsory.” (Temukan bagaimana vaksin terbukti sia-sia belaka dan malah mengandung efek berbahaya untuk kesehatan Anda dan bagaimana ia sering keliru diyakini sebagai wajib)
Saudaraku, sungguh terasa bahwa zaman yang sedang kita jalani dewasa ini benar-benar merupakan zaman penuh fitnah. Seandainya Allah tidak melindungi dan merahmati kita, niscaya kita terancam oleh kekuatan kaum kuffar yang setiap saat menebar kemudharatan. Kemudharatan mana tidak hanya mengganggu aspek fisik diri kita, melainakan mencakup aspek pemahaman bahkan aqidah kita.
Hidup di babak keempat era Akhir Zaman sungguh menuntut kita untuk sangat memperhatilkan peringatan Allah di bawah ini:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ
سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS Al-An’aam ayat 116)
Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunujukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.
Sumber: Eramuslim.com
Friday, April 24, 2009
Enzim Babi di Vaksin Meningitis Haji

PALEMBANG --- Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan (MUI Sumsel) memperingatkan agar pemerintah mengganti vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah karena vaksin tersebut diduga mengandung enzim dari babi.
Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, Jum’at (24/4) mengatakan, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sumsel telah melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) ditemukan bahwa vaksin antiradang otak (antimeningitis) untuk calon jemaah haji tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi.
“MUI Sumsel melakukan penelitian tersebut setelah sekitar tiga bulan lalu mendapat laporan tentang adanya kandungan enzim babi tersebut. Lalu LPPOM MUI dengan dipimpin ketuanya Prof Nasruddin Iljas melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Unsri diantaranya Prof. T. Kamaludin Direktur Program Pasca Sarjana Unsri," kata Sodikun memaparkan
"Hasilnya ditemukan adanya kandungan enzim porchin yang berasal dari binatang babi,” ujar Sodikun menambahkan.
Temuan tersebut menurut Sodikun sudah disampaikan kepada pemerintah dan MUI Pusat agar ditindaklanjuti.
“Kami meminta pemerintah segera mengganti vaksin yang digunakan sekarang dengan vaksin yang halal dan bebas darin enzim binatang yang diharamkan tersebut," ujar Sodikin.
"Sampai sekarang permintaan kami tidak mendapat tanggapan. Melalui informasi yang kami sampaikan lewat media massa, MUI Sumsel berharap Menteri Agama segera tanggap,” imbuhnya.
Sebelumnya, Prof Nasruddin Iljas Ketua LPPOM MUI Sumsel menjelaskan, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dari sapi.
“Jadi sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi.”
Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. “Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya.
Terhadap para jemaah haji yang telah menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi tersebut, Ketua MUI Sumsel menjelaskan, masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga.
“Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan,” tegasnya./oed/itz
src.republika.c0.id
Ketangguhan Hidup
Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia yang tangguh atau rapuh? Masalahnya, di balik orang yang tangguh, ada banyak orang yang rapuh. Dihadapkan dengan sedikit kesusahan mereka goyah dan mengeluh. Dihadapkan dengan masalah yang menghadang dia putus asa. Dihadapkan dengan ketidakenakan dia tersinggung, lalu marah. Bahkan, dengan masalah sepele saja mereka akan menyerah. Lihatlah, hanya karena tidak bisa mengerjakan PR, ia membanting pintu dan menyobek kertas. Hanya karena tidak bisa memasang peniti, susah masuk, ia marah-marah dan membanting peniti tersebut. Hanya karena putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia sakit hati.
Karena itu, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri, apakah diri kita bermental tangguh atau sebaliknya bermental rapuh? Kalau kita sudah lebih mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri.
Beberapa hari lalu saya menonton acara televisi tentang kontes ketahanan fisik, untuk memilih manusia 'terkuat' di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari puluhan kilometer, menaiki bukit, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan lumpur, dan lainnya. Dalam perlombaan tersebut, terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama-sama kuat. Yang terakhir inilah yang kemudian keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan hanya dapat dilihat tatkala seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.
Analogi dengan kenyataan tersebut, hidup hakikatnya adalah medan kesulitan sekaligus medan ujian. Separuh dari hidup kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Alquran, Allah SWT berjanji akan membahagiakan orang-orang yang sabar dan tangguh dalam mengarungi kesulitan hidup. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali' (QS Al-Baqarah [2]: 155-156).
Ketangguhan yang hakiki bagi seorang Muslim tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari seberapa kuat keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.
Orang yang memiliki kekuatan iman, salah satu ciri khasnya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Dalam praktiknya, ia memiliki lima rumus. Pertama, ia yakin bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Ia akan menghadapinya sepenuh hati, tidak ada kamus mundur atau menghindar. Kedua, ia yakin bahwa setiap kesulitan sudah diukur oleh Allah, sehingga takarannya pasti sesuai dengan kapasitas manusia. Ketiga, ia yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan. Keempat, ia yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya. Dan terakhir, ia yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah (juga manusia). Pasti ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.
Karena itu, sesulit apapun keadaan bangsa kita, sesulit apapun keadaan keluarga dan diri kita, pilihan terbaik hanya satu: 'Kita harus menjadi manusia tangguh.' Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Tidak mungkin kesulitan akan terus menerus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan? Wallahu a'lam bish-shawab.
src. tausyiah aa' gym
Tuesday, April 21, 2009
7 ciri 'Sok Tahu'
1. Enggan Membaca
Ketika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui.
Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat.
2. Enggan Menulis
Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia.
Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"?
3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan
Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah.
Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.
4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham
Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32)
Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah."
5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain
Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi).
Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil."
6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat
Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli.
7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.
Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-'Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.
Aisha Chuang
ac4x3@yahoo.com
Monday, April 13, 2009
Sumber Hidayah dan Dholalah
Dari paparan di atas, dapat kita ketahui bahwa kendati manusia telah diberikan Tuhan Pencipta kesiapan untuk menerima Hidayah-Nya, dilengkapi dengan berbagai peralatan super canggih dan dijelaskan pula tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan-Nya dalam jagad raya dan dalam diri manusia, namun pada realitasnya tidak sedikit manusia yang masih belum bisa menerima Hidayah tersebut. Padahal Hidayah Allah itu adalah sesuatu yang amat mahal harganya dan amat besar perannya dalam perjalanan wisata manusia.
Tanpa Hidayah mustahil manusia mencapai Kesuksesan Tanpa Batas (The Great Success) di akhir perjalanan wisata mereka, yakni Akhirat kelak, seperti yang akan diakui oleh penghuni Syurga berikut ini :
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (43)
“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan Hidayah-Nya kepada kami (untuk bisa masuk) ke dalam (Syurga) ini. Dan kami (dulu di dunia) sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-Rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "Itulah Syurga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu (di dunia) kamu kerjakan." (Q.S. Al-A’raf (7) : 43)
Melihat kenyataan tersebut timbul pertanyaan mendasar : Dari mana sumber Hidayah dan Dholalah itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat kami jelaskan sebagai berikut :
1. Sumber Hidayah.
Hidayah I’tiqodiyah, Hidayah Thoriqiyyah, Hidayah Amaliyah dan Hidayah Fithriyah semuanya berasal dari Tuhan Pencipta. Ketiga Hidayah tersebut dijelaskan dalam sebuah Kitab Petunjuk bernama Al-Qur’an. Sebab itu sebagai Tuhan Pencipta manusia, Dialah pemegang otoritas tunggal Hidayah tersebut. Dia akan berikan kepada manusia yang dikendaki-Nya. Namun, pemberian tersebut didasari sifat Maha Adil Allah, bukan berdasarkan kezaliman, diskriminasi dan sebagainya sebagaimana yang dijelaskan pada poin Sebab-Sebab Hidayah sebelumnya. Siapa yang Allah berikan kepadanya ketiga Hidayah tersebut, maka ia dijamin sukses di dunia dan memperoleh Kesuksesan Tanpa Batas (The Great Success) di Akhirat kelak. Allah, Tuhan Pencipta menjelaskan dalam firman-Nya :
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لا يُؤْخَذْ مِنْهَا أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ (70) قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُنَا وَلا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (71)
Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al Qur'an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam Neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa`at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima tebusan itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam Neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu (di dunia) (70) Katakanlah: "Apakah kita akan meminta kepada sesuatu selain Allah, yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudaratan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang (menjadi murtad), sesudah Allah memberi Hidayah (petunjuk) kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, sedangkan dia (orang tersebut) mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya Hidayah (Petunjuk) Allah itulah (yang sebenarnya) Hidayah (petunjuk); dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan Pencipta alam semesta ”(Q.S.Al-An’am (6) : 70 – 71 )
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (120)
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya Hidayah (petunjuk) Allah itulah Hidayah (petunjuk yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan (hawa nafsu) mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(Q.S.Al-Baqoruh (2) : 120)
2. Sumber Dholalah
Jika Hidayah berasal dari Allah Tuhan Pencipta, maka dari mana pula sumber Dholalah (Kesesatan) yang menjadi penyebab kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di Akhirat kelak? Paling tidak Ada tiga sumber utama Dholalah. Dua di antaranya berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, yakni Hawa Nafsu dan Kebodohan tentang Tuhan Pencipta dan satu lagi berasal dari luar diri mereka, yakni Iblis, setan dan manusia yang tersesat dari jalan yang benar, seperti penjelasan berikut :
1. Hawa Nafsu yang ada dalam diri manusia, seperti yang dijelaskan Tuhan Pencipta dalam firman-Nya :
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50)
Maka jika mereka tidak memperkenankan (menerima) seruanmu,maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa (bimbingan) petunjuk dari Allah sedikit pun.? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Qashash (28) : 50)
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (48) وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49) أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (50)
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan mendominasi terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (48) dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.(49) Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (50) (Q.S. Al-Maidah (5) : 48 – 50)
2. Kebodohan yang bersumber dari tidak adanya pengetahuan tentang Tuhan Pencipta, seperti yang Allah jelaskan dalam firman-Nya :
قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (140)
Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (Q.S. Al-An’am (6) : 140)
3. Setan, iblis, dan manusia yang tersesat dari jalan Allah, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya :
A. Setan yang selalu berupaya menyesatkan dan menipu manusia.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا (60)
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
(Q.S. An-Nisa’ (4) : 60)
يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ (27)
Hai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-A’raf (7) : 27)
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40)
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (40) kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlasin di antara mereka
(Q.S. Al-Hijr (14) : 39 – 40)
B. Mnusisa yang tersesat dari jalan Hidayah yang selalu mencoba mempengaruhi oran lain untuk menyesatkan mereka, seperti yang dilakukan Samiri, salah seorang umat Nabi Musa.
قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ (85)
Allah berfirman: "Maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri (salah seorang pengikut Nabi Musa) (Q.S. Thaha (20) : 85)
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (25)
(ucapan mereka yang mengatakan Al-Qur’an itu cerita dongeng) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari Kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. (Q.S. An-Nahl (6) : 25)
Monday, April 6, 2009
Bingung Pilih Partai yang mana?
Menjelang pemilu ini saya bingung memilih partai, karena saya mengamati beberapa debat dan diskusi terbuka mengenai platform partai islam di salah satu stasiun TV swasta, mengenai P** dan P**, saya lihat partai P** akan mengusung syariat Islam yang dibaur dengan hukum yang ada di indonesia. P** saat debat terbuka dengan orang JIL mereka sangat bagus dan benar2 matang dalam masalah yang ada sehingga orang JIL tidak mampu berdebat lebih dengan P** terutama pada Yusril Ihza Mahendra, jawabannya sangat diplomatis dan gaya M. Natsir, sedangkan P** saya masih sangat ragu karena selama ini belum terdengar akan memperjuangkan Islam di parlemen, terutama lagi lambang partai tersebut saya lihat di internet sangat mengganggu saya, saya mau tanya latar belakang dan ciri partai mana yang baik dan konsisten mengusung kepentingan islam?
Avist
Jawaban
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara Avis yang insya Allah senantiasa mendapat rahmat dan lindungan Allah SWT, akidah keislaman kita memang mewajibkan setiap orang yang mengaku Islam untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam di seluruh muka bumi, termasuk di negara ini. Hal ini termasuk dalam sumpah dan perjanjian kita kepada Allah SWT saat kita bersyahadat di dalam rahim ibu kita.
Nah, dalam hal memilih partai politik dalam pemilu sekarang yang memperjuangkan syariat Islam, maka kita harus sungguh-sungguh memahami peta politik di negeri ini dan membongkar realita yang ada. Politik itu kotor, ini adagium yang popular. Setuju atau tidak dengan adagium ini, namun kenyataan yang terjadi di Indonesia sekarang ini memanglah demikian. Sebab itu, pertama-tama kita harus membongkar kebenarannya:
Pertama, kita sering dicekoki penguasa yang mengatakan jika yang berjalan di negeri ini adalah sistem demokrasi. Faktanya, yang berjalan di negeri ini adalah sistem oligarki dan plutokrasi yang berkedok demokrasi. Plutokrasi adalah sistem kekuasaan yang hanya beralih dari satu kelompok berduit ke kelompok berduit saja, dari orang kaya satu ke orang kaya lainya. Di sini rakyat kecil hanya dijadikan komoditas politik, yang didekati dan dirayu jika kelompok kaya itu punya kepentingan. Jika kepentingannya sudah tercapai, maka rakyat kecil pun ditinggalkan dan dilupakan. Sedang Oligarki merupakan dikuasainya partai politik hanya oleh segelintir orang—juga disebut elit partai. Boleh saja partai politik memiliki yang namanya Dewan Syura, Majelis Pembimbing, Majelis Penasehat, atau apa pun namanya, namun semua itu bisa di-veto oleh satu atau dua orang saja yang terdapat di dalam partai. Jadi, yang sesungguhnya berkuasa penuh ya satu orang itu. Nah, di Indonesia sekarang ini, Plutokrasi dan Oligarki merupakan sistem yang sudah tercipta, berjalan, dan berlangsung dengan sangat kuat dan lama, sampai detik ini. Demokrasi kita adalah demokrasi yang dipenuhi praktek Plutokrasi dan Oligarki.
Kedua, jangan sekali-kali terkecoh dengan iklan partai politik. Lihat saja faktanya. Jika ada partai yang mengklaim mengusung syariat Islam namun isteri-isteri para petingginya belum berjilbab atau banyak tokohnya masih merokok, padahal sudah jelas haram, maka itu sama saja "Kaburo-Maktan". Atau jika ada partai politik yang mengklaim diri sebagai partai yang paling bersih, namun para petingginya tiba-tiba bisa menjadi kaya raya dalam waktu singkat (meminjam istilah film "Mendadak Dangdut, eh.. Mendadak Kaya") padahal dia tidak punya usaha apa-apa selain menjadi petinggi partai, maka ini pun patut dicurigai. Apalagi jika partai tersebut ternyata menjalankan praktik Oligarki di mana seorang pemimpinnya amat sangat berkuasa dan seringkali memandulkan hasil syuro. Apalagi jika partai ini terang-terangan tidak mendukung perjuangan penegakkan syariat Islam. Apalagi jika partai ini jelas-jelas memberikan wala' atau loyalitasnya pada kaum kufar walau di wilayah yang memang banyak kaum kufarnya. Memberikan loyalitas kepada kaum kufar merupakan hal yang bertentangan dengan Qur'an dan Sunnah, apa pun dalihnya. Apalagi jika partai ini sudah mulai dangdutan, dengan penyanyi perempuan pula. Maka partai model begini ya sama sekali bukan partai Islam, tidak ada beda dengan partai sekular lainnya.
Ketiga, memilih dalam pemilu adalah hak, bukan kewajiban. Ini dijamin oleh undang-undang negara. Sebab itu, setelah mencermati sistem yang berjalan di Indonesia ini secara faktual, setelah mencermati perilaku dan fakta yang terjadi di sejumlah partai politik, maka Anda bebas untuk menetapkan pilihan: Ikut Memilih atau Memilih Untuk Tidak Memilih. Tidak ada satu orang pun yang memiliki kewenangan untuk memaksakan pilihannya kepada Anda. Kerahiban tidak ada dalam Islam, jadi seorang Muslim itu akan mempertanggungjawabkan tindakannya kepada Allah SWT secara langsung, tidak ada perantara, tidak ada calo dan tidak ada makelar, jadi tidak perlu dimark-up 20 persen seperti yang kebanyakan dilakukan oleh anggota DPR di "negeri impian", he he he... Kita 100% mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan semasa hidup ini hanya kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain.
Jadi, mana partai mana sekarang yang baik dan konsisten memperjuangkan kepentingan umat Islam? Untuk hal ini saya tidak bisa menjawabnya, karena sampai saat ini saya belum melihat ada yang seperti itu. Yang ada baru sebatas klaim dan iklan kampanye. Bukankah tidak ada kecap yang nomor dua?
Nah, sekarang terserah kepada Anda, apakah Anda akan menyukseskan sistem yang seperti sekarang ini, atau memilih untuk menghancurkan sistem yang zalim tersebut. Being Your Self.
Wassalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber: Eramuslim.com
Sunday, April 5, 2009
Indonesia Produsen Software Pendidikan di Dunia
Pendidikan merupakan kunci menyokong taraf sosial dan kesempatan ekonomi yang lebih baik. Perkembangan teknologi pada sebuah penyedia layanan pendidikan pun diperlukan. Pada penghujung tahun 2007, PT. Pesona Edukasi perusahaan industri kreatif berbasis teknologi yang fokus pada pendidikan kian mengembangkan potensi pendidikan di Indonesia.
Direksi Marketing PT Pesona Edukasi, Hary S Chandra mengatakan perjalanan Indonesia dalam membuat software pendidikan telah mampu mengungguli India. "Kami sudah meluncurkan software ini ke Internasional dan respon mereka sangat bagus. Bahkan Malaysia yang sempat meragukan pun akhirnya menerima kerjasama untuk menjadi distributor," ungkap Hary pada acara konferensi pers di Hotel Aryaduta, Jakarta (21/11).
Penetrasi ke Internasional market telah menghasilkan ekspor ke 23 negara. Prestasi tersebut sangat berpengaruh baik pada wajah pendidikan Indonesia di mata Internasional. Karena terbukti, Indonesia mampu membuat komoditi non sumber daya alam, namun murni teknologi."Ini bisa sangat membantu Indonesia dalam mengembangkan atau mencapai misi pemerintah dalam Industri kreatif," imbuhnya.
Sementara itu Microsoft sebagai stakeholder merasa yakin dan bersemangat untuk bekerja sama. "Ada alasan yang membuat Microsoft bersemangat. Karena format PesonaEdu di distribusi melalui ritel. Selain itu PesonaEdu adalah salahsatu dari sedikit pembuat software yang sangat fokus dan konsisten dalam mengembangkan pendidikan Indonesia berbasis teknologi," paparnya.
Misi PesonaEdu menunjukan dunia bahwa Indonesia mampu menjadi pusat perkembangan software pendidikan tengah menemukan jalan. Tahun ini sofware Matematika dan Fisika buatan anak bangsa itu telah masuk ke jantung pendidikan ditiga negara yaitu Brunai, Singapur dan Filifina. Cr1/kp
Kaspersky Temukan Malware Ponsel Pencuri Uang.
Pekan lalu, para ahli di Kaspersky Lab mendeteksi malware baru yang menyerang sistem operasi Symbian. Target serangan adalah para pengguna sebuah operator telepon selular di Indonesia. Malware berupa Trojan itu ditulis dengan skrip pemrograman Python. Trojan mengirim pesan singkat berisi instruksi untuk mentransfer uang ke nomor rekening milik pelaku tindak kriminal.
Ada 5 varian dari Trojan bernama Trojan-SMS.Python.Flocker, dari .ab sampai .af. Jumlah uang yang ditransfer terentang antara US$0.45 hingga US$0.90. Meski jumlahnya tak seberapa, tapi pelaku di balik Trojan berhasil menginfeksi banyak ponsel, jumlah yang diperoleh pun bisa cukup banyak.
"Sangat kentara kalau pembuat Trojan mengincar uang," kata Denis Maslennikov, analis senior di Kaspersky Lab.
"Sepertinya penipuan untuk memperoleh uang menggunakan malware untuk perangkat bergerak semakin terang-terangan. Sampai saat ini, banyak orang mengira malware yang mengirim pesan SMS tanpa sepengetahuan pengguna hanya terjadi di Rusia. Sekarang, kita bisa lihat kalau masalah itu bukan lagi milik Rusia, tapi sudah jadi masalah internasional," tambahnya.
Pengguna Kaspersky Mobile Security sudah terlindungi dari Trojan baru ini. Produk Kaspersky itu memblok malware sehingga malware tak bekerja. Kaspersky Lab menganjurkan agar pengguna berhati-hati saat menggunakan ponsel pintar untuk berinternet. Kaspersky Lab juga menganjurkan agar antivirus pada ponsel selalu diperbarui./cr1/it
